Tel No.

Blog

* * EKSEKUSI MATI DI BALAI KOTA * *

Di Post Oleh : OEANG_NOESANTARA 09-06-2020 19:38:25 38
img/blog/top_22940891630681_2273821106248054_5315651331703177216_n.jpg

Pagi ini mau tulis kabar tentang apa lagi ya? Kan bosan soal wabah terus. Kita sedang memasrahkan diri kepada ilmuwan dan tenaga medis untuk mengatasinya. Ya sudah saya berbagi isi salah buku yang saya sukai “INDRUKKEN VAN EEN TOTOK” karya pelancong Eropa bernama Justus van Maurik, yang bepergian ke berbagai wilayah koloni Hindia Belanda mulai dari ujung utara Sumatera hingga ujung timur pulau Jawa. Bule totok itu mendokumentasikan pengalamannya lalu menjadikan satu buku ciamik seberat 2 kg, setebal 487 halaman yang diterbitkan di Amsterdam tahun 1897.

Harga buku original lumayan tinggi untuk kelas lokal. Bagi anda yang berminat bisa membeli jenis re-print dengan harga yang sangat terjangkau via online. Saya pilih satu ceritera yang terjadi di Stadhuis atau Balai Kota (1) di Batavia. Lokasi itu sekarang menjadi obyek wisata paling populer untuk warga Jakarta di akhir pekan. Tulisan ini sebenarnya sudah saya siapkan jauh hari sebelumnya tapi terinterupsi hingga muncul wabah. Beginilah kisahnya …

-----

Pagi buta aku terbangun dari tidurnya di salah satu hotel Molenvliet (2) akibat lengkingan terompet prajurit lewat sembari melecut punggung kuda. Lonceng bergemerincing penanda sado lewat menuju ke utara. Tergopoh aku mencari korek api, menyalakan lilin dan melihat arloji. Jarum jam baru menunjukkan pukul 04.30. Sesuatu akan terjadi? Sekarang aku ingat semalam orang tak henti membicarakan bahwa di Stadhuis pukul tujuh pagi ini akan dilaksanakan hukuman mati terhadap seorang Cina (3) bernama Tjoe Boen Tjiang yang beberapa bulan lalu merampok dan membunuh dua wanita.

Derap kaki kuda menghilang di sebelah utara, berganti dengan tiupan peluit trem uap memanggil penumpang. Dalam cuaca yang masih dipenuhi embun orang bergegas saling dorong dan desak memasuki gerbong. Oeri, seorang anak lelaki yang menjadi pembantuku, berkata: “Tuan mereka berangkat ingin melihat orang digantung. Tuan akan melihat juga?” (4)

“Entahlah Oeri. Saya belum pernah. Di sana, di negeriku hukuman mati sudah dihapus.”

Bocah itu menyiapkan air mandiku. Aku bimbang dan berkonsultasi dengan diri sendiri apakah ikut menonton pertunjukan yang mengerikan itu atau tidak? Akhirnya aku memutuskan untuk pergi guna menguji syaraf keberanian. Segera mandi lalu menikmati minuman kopi hangat di pagi ini. Ahh… nikmat. Sambil mengenakan baju aku melihat diri ke cermin untuk melihat reaksi diri apakah aku takut? Tidak. Biasa saja.

“Oeri, panggilkan dos-a-dos (5)”

“TIdak usah tuan. Ada trem kedua di Riswijk.” (6)

Aku bergegas ke halte tepat pada waktunya dan menjumpai gerbong yang sudah penuh. Akhirnya aku mendapatkan tempat duduk di gerbong belakang yang dijejali orang-orang Cina. Mereka sibuk berbicara satu dengan yang lain.

Panas sinar matahari pagi menyapa lembut. Air kali di sepanjang jalan (7) memantulkan sinarnya. Angin pagi yang berhempus sepoi meniupkan bau harum daun dan bunga pepohonan dari hutan kampung seberang jalan. Jalanan masih lembab akibat embun membuat tak berdebu. Lima belas menit kemudian aku sudah berada di alun-alun Balai Kota, tempat bangunan kayu / perancah yang hitam dan suram didirikan. Barisan tentara infanteri dan kavaleri membuat barikade di depan dan sekitar perancah itu. Seorang algojo pribumi berseragam polisi pamong praja, celana panjang putih, berdiri acuh tak acuh menatap tiang gantungan. Nun di teras depan gedung Balai Kota beberapa petugas - juru sita - asisten residen – jaksa - kepala polisi pribumi - dan beberapa pejabat lain berkumpul dengan wajah serius.

Seluruh lapangan sudah penuh dengan orang terutama kaum perempuan. Banyak orang Cina mengenakan topi putih dan celana panjang berambut ekor (8) yang dijalin dengan sutera merah – bitu – putih, mereka berkerumun di belakang para prajurit. Hadir pula orang Arab yang bersunat dan berpakaian indah dan tiga orang haji berserban hijau. Sedikit lebih jauh ada orang Armenia dan Klingeleezen (9), serta beberapa orang Eropa. Gerbong kereta trem dan dos-a-dos terus menumpahkan penumpangnya hingga lapangan yang luas itu penuh sesak itu. Mereka yang terlambat datang perlu meregangkan leher sepanjang mungkin untuk dapat melihat apa yang di depan. Sebagian berlindung dengan pakaian mereka dari sengatan panas matahari yang mulai meninggi, serta mengusir keringat dengan cara berkipas. Mentari bersinar dengan kecemerlangan luar biasa di pagi ini. Para pedagang minuman dan buah tak ingin melewatkan momen itu. Penjual es menempati sisi yang agak longgar lalu menggerincingkan kaleng untuk mengundang pembeli. Beberapa dari mereka mungkin sudah beberapa kali menghadiri eksekusi sejenis sehingga masih bisa menyempatkan minum es krim anyelir dan es limun.

Ribuan orang hadir tapi sunyi. Mereka terbelit dalam keheningan yang aneh menunggu jalannya eksekusi. Pikirku: mereka berdebar menantikan hal buruk yang akan terjadi. Tapi seseorang yang berdiri di sebelah berkata:

“Tidak. Mereka selalu seperti ini, tidak menunjukkan emosi, tidak melolong dan semua bubar setelah semua berakhir.”

Aku berjalan mencari sela hingga menemukan tempat terdepan sehingga bakal dapat menyaksikan dengan jelas tontonan yang menarik ini. Aku berniat melihat lebih dekat lagi tapi ragu dengan kemampuan syaraf yang kumiliki. Sekarang hampir pukul tujuh. Ketegangan meningkat. Bunyi tambur dihentak terdengar dari depan Balai Kota. Seseorang berkata sinis: “Si penjahat sudah siap!”

Terhukum tampak digiring menuju perancah. Sepanjang jalan ia tidak memberikan tanda gugup atau takut sedikitpun (10). Dengan cerutu manila di bibir dia berjalan di antara pengawal. Matanya menatap acuh tak acuh pada tiang gantungan yang menanti. Gumam pengunjung terdengar lembut seolah-olah lebah berdengung. Kini si terhukum berdiri di samping perancah. Aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ia pemuda tampan dengan penampilan yang mempesona. Dengan santai ia memegang cerutu, menghisap dan meniupkan asap tebal dari bibirnya. Dengan mata yang jernih ia melihat sekeliling, ke kanan dan ke kiri tanpa rasa takut. Pakaiannya rapi serba putih. Kuperhatikan ekor rambutnya indah, melilit longgar diikat dengan pita merah dan menggantung ke tengah punggung. Luar biasa! Melihat penampilan seperti itu aku merasakan muncul simpati untuknya, di lain sisi aku sadar bahwa ia seorang berdarah dingin yang membunuh dua nyawa hanya untuk merampas barang. Apakah itu sebanding?

Sang pemuda mengakui pembunuhan dilakukan sendirian tanpa bantuan orang lain dan sekarang ia pantas menerima hukuman mati. Setelah selesai berbicara ia membungkuk dalam-dalam, lalu menunggu prosesi selanjutnya dengan tegak berdiri. Wah, benar-benar pemberani. Aku mendapati bahwa rasa simpati kepada penjahat itu tidak berkurang; mungkin karena ketenangan yang ia pertunjukkan. Semua terdiam. Hening. Mencekam. Semua orang menahan napas. Telinga bisa mendengarkan suara paku jatuh berdenting. Di kejauhan seekor ayam jantan berkokok lantang.

Terdengar aba-aba dan pemuda itu menoleh ke arah sumbernya. Sang algojo mendekati. Ia mengulurkan tangan mempersilahkan kedua anggota tubuhnya diikat. Sekali lagi ia membungkuk kecil kepada hakim, lalu berbalik dan dipandu oleh algojo menaiki tangga kematian dengan langkah mantap menuju panggung perancah yang hitam mengancam. Algojo memegangi tangannya. Dengan suara perlahan dan lebih keras pemuda itu mengucapkan beberapa kalimat peringatan untuk tidak melakukan perbuatan yang telah dilakukan. Aku mendengar algojo memintanya agar sedikit mundur. Pemuda itu menunduk dan mengulurkan leher ke kiri seakan-akan menawarkan untuk dijerat. Kini tali telah siap. Sejenak hening.

Algojo tiba-tiba menyentakkan simpul tali di geladak tempat terhukum berdiri. Suatu hentakan yang hebat mengenai leher sang terhukum. Cina Tjoe Boen Tjiang alias Impeh terjerat tali elmaut. Aku melihatnya. Syarafku tergedor. Ingin rasanya membalik wajah tapi tidak kulakukan. Aku terus mengamati. Wajahnya yang kuning pucat kini berubah merah menyala. Matanya melotot, mulutnya terbuka lebar, lidahnya menjulur di antara gigi-gigi putih. Sungguh mengerikan! Algojo sekarang menutupi kepalanya dengan kain putih. Tubuhnya tersentak beberapa kali oleh gerakan kejang terakhir, bertahan dan kemudian berhenti. Keheningan yang tidak menyenangkan berkuasa di hati para penonton. Sang algojo mengangkat kain berulang kali, memeriksa wajah dan tangannya untuk memastikan kematian sedang terjadi.

Sekarang yang tersisa hanyalah tubuh yang menggantung di perancah. Sang algojo berdiri tenang tanpa ekspresi di samping mayat. Sebentar lagi ia mendapat suguhan makanan yang bisa ia nikmati. Tiba-tiba terdengar suara keras di belakangku. Ternyata suara dari tiga orang nona yang bercanda dengan mengagetkan wanita lain. Pengunjung membubarkan diri. Penjual air es kembali membunyikan kaleng guna mengundang orang menghampiri dagangannya. Hari sudah panas. Setelah pertunjukan itu, menghirup asap tembakau terasa sangat nyaman untuk mengendorkan ketegangan. Akupun bergembira karena dapat meninggalkan tempat itu. “Selamat tinggal”. Di Belanda hukuman mati tidak dipraktekkan. Kami tidak membutuhkannya. Tapi di sini, juga di India, kita harus memiliki hukuman itu sebab itulah satu-satunya yang mereka takuti.

Aku kembali ke hotel menggunakan trem dan tak mengalami atau merasakan sesuatu yang istimewa sepanjang hari, jadi kupikir aku sudah lulus ujian mental. Tapi pada malam hari seusai dinner yang menyenangkan dengan seorang kenalan, saat aku ingin beristirahat di kamar dan kuhembus nyala lilin, tiba-tiba tampil di hadapanku penampakan kepala bengkok miring, mata memerah dan lidah menjulur bengkak dari pemuda Cina yang digantung itu. Aku gemetaran karena sepanjang malam penampakan mayat tergantung itu selalu muncul. Hanya rasa lelah luar biasa yang menyebabkan akhirnya aku terlelap.

T A M A T

Terkarang oleh Oeang Noesantara di tengah kepungan C-19

---

 

Spesial terima kasih kami ucapkan untuk:

  1. Penemu Google Translate.

  2. Bu Guru yang mengajari saya mengarang indah.

-----

 

CATATAN

(1) Stadhuis atau Balai Kota = sekarang menjadi Museum Sejarah Jakarta dan Lapangan Fatahillah.

(2) Molenvliet = sekitar Jalan Gajah Mada – Hayam Wuruk hingga Jalan Majapahit di Jakarta Pusat.

(3) Dalam kolonialisme masalah ras adalah hal yang menjadi isu sentral. Perbedaan kelas sosial dan hukum juga disesuaikan dengan ras yang disandang oleh masing-masing masyarakat.

(4) Eksekusi = hukuman seperti terjadi beberapa wilayah di dunia maupun Indonesia yang menjalankan sanksi di depan public, dan menjadi hiburan sadis bagi masyarakat setempat.

(5) dos-a-dos = asal muasal kata “sado”

(6) Riswijk = daerah sekitar Istana Merdeka hingga perempatan gedung Societet Harmoni. Sayang gedung ini sudah dirubuhkan dengan alasan pelebaran jalan.

(7) Air kali di sepanjang jalan Gajah Mada – Hayam Wuruk. Di kali itulah penduduk perempuan Batavia mandi dan mencuci baju sembari bersosialisasi dan bergosip ria.

(8) Rambut panjang berkucir yang merupakan mode Manchu adalah ciri khas pria Cina zaman dinasti Qing 1644 – 1911.

(9) Mungkin maksud pak Justus adalah orang Yahudi Armenia dan orang Keling dari India?

(10) Ketidak takutan pada hukuman maksimal seperti ini sangat jarang di alami oleh terhukum yang merasa bersalah. Besar kemungkinan pelakunya memiliki keyakinan terhadap suatu ideologi atau kebenaran yang ia pegang teguh. Perbuatan Tjoe Boen Tjiang berdekatan dengan peristiwa Pemberontakan Boxer yang terjadi di Tiongkok pada tahun 1901 yaitu perlawanan terhadap penjajahan barat dengan menggunakan bela diri. Apakah ada kaitan ideologi di antara keduanya?

-----

 

SUMBER:

- Justus Maurik, “Indrukken van een Totok”.

- Dokumentasi dan perpustakaan Oeang Noesantara.

- Scott Merrillees, “Batavia in Nineteenth Century Photographs”.

- Scott Merrillees, “Jakarta: Postcards of a Capital 1900 – 1950”.



TAMBAHKAN KOMENTAR