Tel No.

Blog

KERAJAAN DEMAK ABAD XVI & NUMISMATIKA -- Bagian II

Di Post Oleh : OEANG_NOESANTARA 08-06-2020 20:49:17 31
img/blog/top_749537101374410_2317784778518353_1371258507856183296_o.jpg

HUBUNGAN MAJAPAHIT - DEMAK

Nun jauh di ujung tenggara benua Asia di pulau Jawa terdapat kerajaan Majapahit. Di situ berkuasa seorang raja bernama Brawijaya V. Ia memiliki seorang isteri muslimah dari Champa bernama Dwarawati namun mereka tidak memiliki keturunan. Raja lalu mengambil selir seorang perempuan Cina bernama Siu Ban Cie [1]. Sang selir mengandung jabang bayi sang raja. Melihat madunya berhasil membahagiakan suaminya, isteri pertama merasa tidak suka lantas meminta agar ia disingkirkan. Dengan berat hati raja mengikuti permintaan itu. Ia memberikan sang selir kepada Arya Damar disertai wanti-wanti agar ia tidak bercampur terlebih dahulu sebelum sang anak dilahirkan. Arya Damar kembali berlayar menuju daerah tugasnya di Palembang - Sumatera. Di sana pada tahun 1448 perempuan itu melahirkan anak yang diberi nama Jin Bun yang oleh sebagian dipanggil dengan nama Hasan, dan tentu yang paling terkenal adalah nama Raden Patah. Selanjutnya Arya Damar bersama perempuan itu memiliki anak bernama Kin San atau Raden Husein [2].

.

Kakak beradik itu direncanakan memerintah Palembang. Namun mereka memilih untuk berlayar ke Jawa pada tahun 1474. Mereka mengunjungi satu masjid perkampungan Cina di Semarang yang di pernah disinggahi laksamana Cheng Ho dan Ma Huan sebagai utusan kaisar Yung Lo dinasti Ming – Cina [3], namun ternyata masjid sudah berubah menjadi klenteng bernama Sam Poo Kong. Merekapun melanjutkan perjalanan menuju timur Jawa ke Ampeldenta dan di sana berguru kepada Sunan Ampel alias Bong Swie Ho [4]. Pada masa itu pulau Jawa sudah mendapat syiar Islam saat khalifah Ottoman yakni Sultan Muhammad I di tahun 1404 mengirim beberapa da’i berjuluk Wali Songo angkatan pertama di bawah pimpinan Syekh Maulana Malik Ibrahim [5].

.

Setelah sekian lama menetap di Ampel sang adik mengingatkan kepada Raden Patah bahwa tugas utama mereka datang ke Jawa adalah untuk mengabdi kepada raja Majapahit Bre Kertabhumi. Sang kakak spontan menyatakan keberatan karena baginya orang muslim pantang untuk tunduk mengabdi kepada raja kafir. Tanpa disertai saudaranya sang adikpun berangkat sendiri menuju Majapahit. Di sana Raden Husein diterima dan dijadikan perwira dengan gelar Adipati Terung [6]. Sedangkan Raden Patah menikah dengan cucu Sunan Ampel hingga akhirnya ia mendapat wejangan dari mertuanya untuk berjalan ke arah barat untuk membuka hutan. Nasehat itu diikuti Raden Patah, ia berkelana ke arah yang ditunjuk. Sesampai di daerah Glagah Wangi yang penuh ilalang berbau harum, ia lantas membabat alas dan nama wilayah diganti menjadi Bintoro. Prabu Brawijaya V mendengar berita tentang seseorang dari Bintoro yang memiliki banyak anggota. Ia mengutus Adipati Terung untuk menjemput. Setelah bertemu sang raja terkejut mengetahui bahwa pemuda di hadapan ternyata putranya sendiri. Ia lantas memberikan gelar Adipati Bintoro dengan pesan agar wilayah itu diberi nama Demak yang menjadi bandar ramai dan pusat penyebaran Islam [7].

.

Di tahun 1478 Majapahit diserang oleh Girindra Wardhana dari Kediri dalam upaya perebutan tahta. Peristiwa ini ditandai dengan Chandra Sengkala “sirna ilang kertaning bhumi” [8].Sebelum akhirnya Raja Brawijaya V tewas ia sempat menyerahkan wasiat kekuasaan kepada anaknya. Di pihak yang bertentangan, Girindra lalu mengangkat diri sebagai Prabu Brawijaya VI. Mengetahui kekalahan sang ayah Raden Patah melakukan serangan balik disertai Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat dan Pangeran Cirebon memantu Raden Patah. Pada saat itu Raden Terung berada dalam posisi yang sulit karena sebagai adipati Majapahit ia harus menentukan pilihan loyalitas.

 

Di tahun 1481 kedua pihak kembali berhadapan. Pihak Demak didukung beberapa prajurit luar antara lain dari Andalusia, Malaka, Pasai, Aceh dll. Setelah melalui pertempuran akhirnya pihak Girindra dan Adipati Terung menyerah, mengakui kekalahan. Peristiwa itu menurut Chandra Sengkala disebut sebagai “geni mati siniram janmi” atau api padam akibat siraman Demak. Untuk menolak aura negatif kerajaan Majapahit sementara waktu diserahkan kepada Sunan Giri pada bulan shafar 1482. Setelah 40 hari berlalu, memasuki bulan Muharram atau Suro, Wali Songo di bawah pimpinan Sunan Giri menobatkan Raden Patah sebagai Raja Islam pertama di Demak Bintoro. Peristiwa ini terjadi pada 12 Rabi’ul Awwal tahun 886 H atau 1482 yang berusia 34 tahun. Ia memakai gelar Senopati Jimbun Ningrat Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama alias Sultan Syah Alam Akbar Al-Fattah [9].

.

SULTAN FATAH & DIPATI UNUS

Sultan Fattah memerintah mulai 1482 hingga 1518. Sedangkan Masjid Demak sendiri dibangun pada tahun 1477-1479 saat berkecamuk perang melawan Girindra Wardhana. Yang tak mungkin bisa dilewatkan dari masjid ini adalah keunikan tiang utamanya. Jika pembuatan tiga utama atau soko guru-nya yang menggunakan kayu jati solid tegak panjang 20 meter, satu tiang uniknya menggunakan potongan kayu yang dirangkai hingga membentuk satu kolom penyangga. Tidak jelas mengapa digunakan rangkaian kayu yang diperkirakan tidak dipakai lagi yang dijadikan tiang bangunan utama dan sakral dari kerajaan Demak, sedangkan pada saat itu sumber daya alam masih melimpah ruah terutama dari daerah Jipang Panolan – Blora saat ini? Tiang itu disebut dengan Soko Tatal (potongan kayu) dan konon dibuat oleh Sunan Kalijaga.

.

Di masa pemerintahan Sultan Fattah peng-Islam-an Jawa meliputi Cirebon, Sunda Kelapa, Banten. Selain itu ekspansi Demak juga ditujukan ke daerah di luar Jawa antara lain: Sumatera, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Malaka. Beberapa syiar agama dilakukan dengan berbagai cara baik damai, persuasif, budaya, pernikahan yang bersifat politik. Pertunjukan wayang kulit yang sangat disukai masyarakat Jawa adalah salah satu contoh kebudayaan lama yang diadopsi oleh ulama dan penguasa Islam. Namun beberapa syiar agama memang dilakukan melalui kekerasan. Satu contoh adalah saat kaum Demak yang bermazhab Islam Hanafi melakukan pembumi-hangusan dan pembunuhan terhadap penduduknya yang menganut mahzab Syiah kawasan Koja di Candi Semarang [10]. Contoh lain adalah peristiwa pembunuhan terhadap ulama Syekh Siti Jenar yang terkenal dengan prinsip “manunggaling kawulo gusti” [11] yang dianggap menyesatkan umat Islam, atas anjuran Djafar Ash Siddiq alias Sunan Kudus [12]. Adapun kelompok masyarakat Cina Semarang yang murtad dan mengubah masjid menjadi klenteng Sa Pom Kong nasibnya cukup beruntung urung dibasmi pada tahun 1477 karena keahlian mereka di bidang perkapalan masih dibutuhkan Raden Patah atau Jin Bun [13]. Kekerasan militer juga terjadi terhadap kerajaan Hindu-Buddha di ujung timur pulau Jawa yang akan kami tulis lebih detail di bagian belakang. Apapun yang terjadi di masa ini Islam mencapai puncak kejayaan.

.

Pada tahun 1511 kekuatan Portugis yang bermarkas di Goa berhasil mencapai Malaka di bawah komando d’Albuquerque dan menghancurkan kekuasaan Islam di sana. Hal itu dipandang mendahului Sultan Fattah yang sudah merencanakan menyerang Malaka di tahun 1509. Ia tidak bisa menerima kehadiran orang kafir di halaman depannya. Pada tahun 1512 ia mengutus putera sekaligus senapati Raden Muhammad Yunus atau lebih dikenal dengan nama Dipati Unus untuk memimpin koalisi sejumlah 12.000 pasukan Demak, Jepara, Cirebon, Banten, Palembang demi menghancurkan kaum kafir. Dalam ekpedisi jihad ini Sunan Kudus ikut mendampingi. Sebaliknya pasukan Portugis di bawah Ferdinado Perez sudah siap menghadapinya. Namun pada Januari 1513 Dipati Unus mengalami kekalahan telak. Armada mereka dihancurkan oleh Portugis yang jauh lebih berpengalaman dalam pertempuran di laut. Dengan armada tersisa pasukan Demak terpaksa meninggalkan gelanggang pertempuran. Semestinya satu kapal perang jung berlapis baja berukuran besar dapat diselamatkan namun atas perintah Pati Unus kapal itu didamparkan di pantai Jepara sebagai kenang-kenangan atas perang itu [14]. Dalam perang itu Demak diperkirakan menghabiskan biaya sebanyak 100.000 cruzados yang membuat kekayaan mereka di ujung tanduk kebangkrutan [15].

.

Raden Patah wafat pada usia ke 70 tahun 1518. Ia dimakamkan di komplek pemakaman sebelah barat Masjid Agung. Sebagai pengganti adalah Dipati Unus yang memerintah tahun 1518-1521 [16]. Tak terima dengan kekalahan beberapa tahun silam, di tahun 1521 ia kembali menyerang Malaka. Namun kali ini hasilnya lebih fatal. Meriam-meriam [17] besar milik Demak seperti “Ki Amuk” buatan orang Cina non Islam di Semarang, tampaknya terlalu berat bagi kapal model Arab. Pati Unus melakukan dua kali tindakan tergesa-gesa. Bahkan sekarang selain mengalami kekalahan sekarang mereka harus merelakan tewasnya sang sultan. Karena itulah Dipati Unus diberi gelar Pangeran Sabrang Lor [18] yang berarti “Menyeberang ke Utara”. Jenazahnya dibawa kembali ke Demak dan dimakamkan di sebelah pusara ayahandanya.

(… bersambung …)

Terkarang oleh Oeang Noesantara.

Jakarta, 4 Juni 2020 pk. 07.55


 



TAMBAHKAN KOMENTAR