Tel No.

Blog

KERAJAAN DEMAK ABAD XVI & NUMISMATIKA - BAGIAN III

Di Post Oleh : OEANG_NOESANTARA 29-06-2020 00:03:00 23
img/blog/top_75348103457805_2325961144367383_4103989875050992982_o.jpg

SULTAN TRENGGONO & KERUNTUHAN DEMAK

Karena Pati Unus wafat tanpa memiliki anak lelaki sebagai putra mahkota maka pengganti yang mestinya adalah sang adik tertua yakni Raden Kikin . Tapi hal ini tidak disetujui oleh Trengono sebagai adik bungsu. Tak lama kemudian ia dibunuh di sungai oleh suruhan keponakannya sendiri yaitu Mukmin atau Raden Prawoto, anak Trenggono . Karena perbuatan jahat itu Raden Kikin digelari Pangeran Sekar Sedo Ing Lepen yang artinya “Bunga yang wafat di tepi sungai”. Peristiwa itu menimbulkan dendam dari Aya Penangsang anak Raden Kikin yang saat itu menjabat sebagai Adipati di wilayah Jipang Panolan (Blora – Bojonegoro sekarang ini).

.

Singkat kata naiklah Sultan Trenggono, yang tahun kelahirannya diperkirakan 1483, sebagai penguasa Demak III mulai tahun 1521-1546 dengan gelar Sultan Syah Alam Akbar III. Dengan urutan gelar ini dapat diartikan Raden Kikin belum sempat bertahta setelah kematian Pati Unus. Pada tahun 1524 datang seorang pemuda dari Pasai bernama Fadhalullah Khan (1490-1570), orang Portugis memanggilnya Faletehan. Trenggana menyukai pemuda yang populer dengan nama Fatahillah, lalu menikahkan dengan adiknya yang bernama Nyai Ratu Ayu atau Pambayun . Fatahillah menjadi orang kepercayaan dan salah satu tulang punggung pasukannya dengan julukan Senopati Ing Alogo. Keduanya adalah pasangan serasi yang memiliki tekad untuk mewujudkan cita-cita utama kerajaan Demak yakni agama Islam dapat dipeluk oleh setiap manusia di Jawa, tanpa maupun dengan paksaan melalui seruan jihad fiesabilillah jika pihak yang diajak tidak mau masuk dan juga menolak membayar uang jizyah (upeti), hingga semua orang masuk Jannah atau sorga dan bertemu dengan Allah .

.

Selama memerintah 25 tahun Trenggono gencar mengadakan ekspansi militer ke demi perluasan dakwah dan syiar. Pada saat itu seluruh wilayah Jawa telah masuk pengaruh Islam kecuali ujung barat dan timur pulau Jawa. Di ujung barat kaum Hindu Pajajaran yang beribu kota di Pakuan, mereka mengadakan koalisi demi menangkal ekspansi kerajaan Islam sejak tahun 1511. Kemudian tanggal 22 Agustus 1522 mereka memberikan izin kepada Portugis untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa. Melihat itu Sultan Trenggono mengirim pasukan di bawah pimpinan Fatahillah. Dengan didukungan penguasa pertama Banten bernama Maulana Yusuf Hasanuddin mereka berhasil menghancurkan pelabuhan itu pada 22 Juni 1527 lantas mengganti nama menjadi Jayakarta . Sebagai tanda terima kasih atas bantuan yang diberikan rakyat Banten, Sultan Trenggono memberikan hadiah berupa meriam besar buatan Demak yang diberi nama Rara Banya atau Ki Jimat dan sekarang dikenal sebagai Ki Amuk.

.

Di ujung timur pulau, kerajaan Majapahit mengadakan usaha yang sama kepada penguasa Portugis di Malaka. Untuk memperlihatkan niat itu mereka mengirim utusan menghadap Albuquerque di Malaka sembari menyerahkan 20 genta atau gamelan kecil, dan tenunan kain Kembayat yang melukiskan kemenangan Prabu Udara melawan aggressor musuh Majapahit . Demak menyerbu Mahapahit tahun 1517. Sepuluh tahun kemudian Demak mengadakan ekspedisi militer pamungkas yang dipimpin oleh Sunan Kudus . Serangan itu menyebabkan musnahnya kerajaan Majapahit dan migrasi besar-besaran kaum Hindu ke pulau Bali akibat desakan kaum Islam Demak. Setelah menguasai banyak wilayah Sultan Trenggono yang berada di puncak kejayaan mulai melirik benteng pertahanan kaum kafir Hindu Buddha di wilayah Pasuruan dan Panarukan yang saat itu berada di bawah kerajaan Blambangan – Banyuwangi yang terletak di ujung timur pulau Jawa. Wilayah ini dapat disebut sebagai jembatan selat menuju pulau Bali. Peristiwa penyerbuan Pasuruan didokumentasikan dengan baik oleh seorang prajurit Portugis yang ikut serta dalam ekspedisi militer. Adalah Ferdinand Mendez Pinto dalam buku “The Travels of Mendez Pinto” berkisah dalam Bab 172 “Ambasaddress from Java” sebagai berikut .

.

Sultan Trenggono dari Demak mengutus seorang janda berusia 60 tahun bernama Nyai Pambayun untuk Fatahillah di Banten. Isinya adalah meminta bantuan agar Fatahillah tiba di Jepara dalam waktu enam minggu untuk menyerang kerajaan Hindu-Buddha di Blambangan yang diawali dengan penaklukan pelabuhan Pasuruan. Fatahillah yang saat itu adalah bawahan Demak menyatakan “sendiko dawuh – sami’na wa atho’na” alias mendengar dan taat terhadap perintah atasannya itu. Ia mengirim 40 perahu besar berisi 7000 pasukan. Ikut serta di dalamnya, … nah ini dia menarik meskipun terasa janggal bagaimana dua kubu yang saling membenci karena perbedaan agama bisa bersatu …, adalah 47 pedagang Portugis yang saat itu sedang berada di Banten untuk membeli lada. Karena saat itu belum memasuki musim panen mereka berkeliaran di Banten tanpa pekerjaan. Undangan Fatahillah untuk “nyambi” sebagai tentara bayaran disambut dengan riang . Satu pihak membutuhkan keuntungan material, pihak lain membutuhkan sekutu demi mengalahkan kaum kafir. Tanggal 5 Januari 1546 mereka meninggalkan pelabuhan Bantam – Banten – dan tiba di Jepara empat belas hari kemudian. Pada saat itu Trenggono sudah menyiapkan 800.000 tentara. Pesta penyambutan diadakan secara meriah. Ikut serta di dalamnya adalah Adipati Panarukan yang sudah masuk Islam yang artinya siap melawan kaum mereka sendiri.

.

Tanggal 8 Pebruari mereka tiba di daerah sasaran namun tidak mampu mendekati pusat kota Panarukan karena aliran sungai tidak cukup dalam. Mereka membentuk sepasukan amuk berani mati yang selalu melumasi tubuh dengan minyak mundu sebagai tanda bahwa mereka siap melakukan aksi istisyhad atau memburu kematian. Selain orang Portugis ikut serta pasukan dari pulau Luzon – Philipina, pasukan kekhalifahan Turki yang direncanakan terjun dalam peperangan di Aceh melawan kaum Batak dan Aru, pasukan Abisinia dan pasukan Aceh. Seperti diketahui bahwa tentara Turki sangat mahir dalam pembuatan meriam, senjata yang digunakan untuk menaklukkan kota Kristen Konstantinopel seratus tahun yang lalu. Di lain pihak kaum Hindu-Buddha sebagai pihak yang diserang dan bertahan pun telah siap mempertahankan kehormatan .

.

Pertempuran terjadi. Tidak disangka, tidak dinyana pasukan kafir berhasil memenangkan pertempuran pertama. Sultan Trenggono merasa sedih dan terkejut atas musibah itu. Berkali ia menyatakan rasa kecewa dan menyalahkan Fatahillah sebagai pimpinan tertinggi pasukannya dengan ucapan keras. Setelah menyolati jenazah dan merawat pasukan terluka, Sultan memanggil pucuk pimpinan untuk merundingkan strategi sambil mengangkat mushaf Quran. Ia bersumpah tidak akan menghentikan serangan hingga pelabuhan Pasuruan dapat ditaklukkan walaupun harus mengorbankan semua yang dimiliki kerajaan Demak. Ia juga bertekad untuk menghabisi sendiri nyawa orang yang berani menentang tekadnya. Namun semua itu tak kunjung membawa hasil menggembirakan. Mereka juga telah melaksanakan ide orang Spanyol asal Mallorcan dengan membuat menara buatan agar bisa mengimbangi tinggi benteng pasukan Pasuruan. Ribuan nyawa sudah melayang.

.

BENCANA DAUN SIRIH

Pengepungan berjalan betele-tele, berbulan, hingga melewati target sembilan hari. Rasa frustasi dan jemu mulai menghinggapi pasukan Demak. Tanggal 9 Maret 1546 Sultan Trenggono mengundang komandan pasukan ke markas untuk merundingkan strategi terbaik demi memuluskan aksi jihad ini. Alotnya perdebatan membuat mulut Sultan terasa kering. Ia memanggil pelayan untuk membawakan kotak berisi daun sirih kesukaannya. Namun si pelayan kecil berusia 12-13 tahun itu tidak mendengar panggilannya. Kedua kali Trenggono memanggil tak juga sang pelayan menghiraukan. Saat ketiga kalinya, salah seorang menyadari hal itu dan mendorong sang anak agar memberikan apa yang diminta. Pelayan kecil itu tergopoh maju menyodorkan kotak emas berisi daun sirih dan perlengkapan menginang lainnya. Setelah menghentikan sejenak musyawarah dengan mengambil beberapa helai daun dan mengunyah, Sultan melakukan sesuatu pada kepala anak itu sembari berkata: “Ada apa denganmu wahai anak kecil? Apakah telinga kamu tuli?”

Mendapat perlakuan itu sang anak terisak, berdiri menangis merasa dipermalukan di depan orang banyak. Tak pernah terpikir oleh siapapun yang hadir bahwa ia tiba-tiba membalas penghinaan dengan mencabut cundrik yang terselip di pinggang lalu menusuk dada kiri Sultan. Tepat menancap! Semua terkesiap berusaha menolong dan mengobati luka pimpinan tertinggi yang hari itu kehormatannya jatuh ke lembah terendah di tangan pelayan kecil. Namun dua jam kemudian nyawanya tidak tertolong karena keris kecil itu menembus jantung. Sang anak ditangkap, diinterogerasi dan disiksa. Ayahnya yaitu Adipati Surabaya bernama Patih Bondan beserta tiga saudaranya dan 62 anggota keluarga dihukum mati karena dianggap melakukan persekongkolan atas pembunuhan itu.

.

Gairah peperangan kaum Demak spontan surut. Dengan terjadinya musibah itu masalah masih berlanjut: bagaimana cara membawa dan memakamkan jenazah ke Demak pada hari yang sama sebagaimana kebiasaan seorang muslim, sedangkan perjalanan membutuhkan waktu berhari lamanya. Di sinilah tampil Mendez Pinto memberikan usul brilian dan bisa diterima semua orang yakni: jenazah Sultan dimasukkan ke dalam peti yang diisi kapur barus, lalu peti itu dikubur hari itu juga dalam perahu jung yang sebelumnya telah dipenuhi tanah. Merekapun berbondong kembali ke Demak, sejenak melupakan angan menaklukan tanah kaum kafir . Ide itu mengawetkan jenazah memang sesuai harapan karena setelah akhir Maret mereka tiba kembali pusat kerajaan ternyata jenazah belum menunjukkan tanda pembusukkan, hingga dimakamkan kembali diiringi isak tangis rakyat. Atas usaha Mendez Pinto dan rekan mereka mendapat ganjaran upah sejumlah 10.000 cruzados.

.

Demak mengalami kekalahan. Setelah diadakan perhitungan ulang jumlah pasukan yang hilang mencapai 130.000 anggota padahal awalnya diperkirakan hanya 25.000. Ketiadaan putra mahkota menyebabkan petinggi Demak sibuk bermusyawarah mencari kandidat pengganti. Di saat inilah terjadi huru-hara penjarahan. Kapal yang sedang bersandar dirampas terang-terangan. Adipati Muslim Panarukan sebagai laksamana laut kerajaan mengambil tindakan dengan cara menghukum mati puluhan orang. Hal itu tidak disukai oleh Kyai Sedah sebagai Patih Cirebon yang merasa tindakan itu melangkahi wewenangnya. Kedua pemimpin itu berhadapan dan bertempur. Melihat atasannya diserang, 600.000 pasukan laut Adipati Panarukan tidak tinggal diam, mereka ganti menyerang dan membunuh. Kota Demak semakin porak poranda terbakar api dan nafsu merampok. Hari itu seakan-akan ditakdirkan hak bagi mereka yang memegang senjata untuk mengambil harta jarahan senilai 40 juta hingga 100 juta ukuran emas.

Setelah tiga hari suksesi dalam kehancuran, kota Demak kembali tenang. Para petinggi menetapkan Pate Sidayo  yang berada di luar kota sebagai pejabat sementara Sultan Demak. Ia lalu memerintahkan hukuman mati bagi 5000 perusuh dengan dua cara yaitu: ditusuk atau dibakar hidup-hidup di atas kapal yang mereka gunakan saat ditangkap. Tentu saja jumlah 5000 itu jauh daripada jumlah semestinya. Pada saat inilah Mendez Pinto dkk yang tidak memiliki kepentingan apapun dalam kerusuhan itu, meminta izin pergi kembali ke Banten. Fatahillah mengabulkan permintaan itu, mempersiapkan segalanya dan memberikan 300 cruzados sebagai kompensasi kematian 14 awak. Mereka mengucapkan terima kasih setulusnya kepada Raja Sunda yang menepati janji .

.

Raden Mukmin atau Sunan Prawoto ditunjuk sebagai raja Demak yang keempat hanya dalam waktu tiga tahun yakni 1546-1549. Pada saat berkuasa ia meng-Islam-kan Sulawesi Selatan dan hal itu menimbulkan perbenturan dengan orang Portugis yang juga berniat menyebarkan Katolik ke wilayah yang sama. Menurut catatan orang Portugis yang bernama Manuel Pinto (tidak sama dengan Mendez Pinto yang telah disebutkan pada bagian terdahulu) ia bertekad untuk menguasai tanah Jawa dan meng-Islam-kannya: “Jika usaha ini berhasil saya akan menjadi Segundo Truco atau Sultan Turki yang kedua”, sejajar dengan Sultan Suleiman I . Tetapi Sultan ini tewas tahun 1549 saat ia dan isteri sedang di kamar dibunuh atas perintah kemenakannya sendiri Arya Penangsang dari Jipang yang dendam atas kematian ayahnya. Bara api dendam ini belum berhenti. Arya Penangsang yang didukung oleh Sunan Kudus akhirnya dikalahkan dan dibunuh oleh Jaka Tingkir yang dendam atas kematian iparnya, Prawata. Dalam perselisihan antar Wali, Jaka Tingkir alias Mas Karebet atau Hadiwijaya didukung oleh Sunan Kalijaga. Maka berakhir sudah kekuasaan kerajaan Islam Demak berumur 68 tahun yang dibangun oleh Jin Bun sejak tahun 1478. Runtuh berkeping di tahun 1546 beralih ke wilayah Pajang yang terletak di pedalaman Jawa sebelah selatan Demak . Belakangan Pajang menyerahkan tampuk pada penguasa kerajaan Mataram Islam. Kini pentingnya kota Demak sudah tersisihkan diganti oleh kota lain yang lebih memiliki nilai ekonomi. Namun dari sejarah terlihat jelas pengaruh kerajaan Demak di Nusantara mulai abad XV hingga XXI dan masih berlanjut.

(… bersambung Bagian IV Terakhir …)

---

Terkarang oleh Oeang Noesantara

7 Juni 2020, pk 12.49

---

CATATAN KAKI:

1] Kontroversi apakah status Trenggono adalah adik atau ipar Pati Unus? Lihat ensiklopedi Iwan Gayo hal. 950 yang menyebut Pati Unus adalah menantu Sultan Fattah.

Hamka, hal. 762-763. Slamet Muljana, hal. 111.

2] H. J. de Graaf, Kerajaan Islam Pertama, hal. 86-87: tidak disebutkan alasan pembunuhan, namun bisa diduga karena suksesi.

3] Hamka, hal. 763-764. Dari perkawinan ini lahirlah putera sulung yang diberi nama Hasanuddin sang sultan Banten yang pertama. Putera kedua bernama Pasarean yang setelah dewasa dikawinkan oleh Sultan Trenggono dengan puteri bungsunya. Pasarean ini menjadi calon Sultan pertama di Cirebon.

Slamet Muljana, hal. 232. Kronik klenteng Semarang dan Talang menjelaskan tentang Faletehan atau Sunan Gunung Jati. Saat dikirim Trenggono ke Cirebon dan Banten ia adalah panglima perang, bukan ulama. Tapi sayang tidak disebutkan nama sebenarnya. Itu bukan nama saat di Demak atau nama kecilnya. Nama Fatahillah / Faletehan baru digunakan setelah ia memperoleh kemenangan di Sunda Kelapa tahun 1526 sesuai dengan ucapan Portugis yang berarti “Bantuan Tuhan” karena dianggap memperoleh kemenangan atas bantuan Tuhan.

4] Demak hal. 84.

5] Demak, hal. 68

6] Hamka, hal. 759

7] Demak, hal. 116.

8] Kisah selanjutnya disarikan dari buku Rachmad, Demak, hal. 125-166 yang kebanyakan bersumber dari buku Portugis tulisan Mendez Pinto.

Meski demikian H. J. Pigeaud dalam buku Kerajaan Islam Pertama, hal. 73 menyebut bahwa kisah Mendez Pinto itu adalah khayal dan romantisme belaka karena di tahun 1546 sebenarnya ia tidak berada di Jawa.

9] Wawancara dengan S. Margana Ketua Jurusan Sejarah UGM dengan pak Wisnu Baskoro

, hotel Kempinsky – Jakarta, Januari 2020.

10] Tome Pires, Suma Oriental, hal. 274. Penguasa Blambangan punya budaya yang aneh dan kejam. Jika meninggal isteri-isterinya akan diperintahkan untuk ikut bunuh diri, atau dengan cara terbakar bersama jenazah suami, atau menenggelamkan diri. Budaya “sati” ini khas Hindu, meskipun sebenarnya tidak monopoli milik mereka sendiri karena sebagian masyarakat di dunia juga memiliki tradisi buruk yang sama.

Dalam buku Paul Michel Munoz, Kerajaan-kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia, hal. 483-484 disebutkan bahwa kebiasaan sati atau bunuh diri dengan cara terjun ke api bersama jazad suami, relatif jarang dilakukan di Bali. Justru di Pajajaran-lah praktik itu lebih banyak terjadi. Bisanya sang isteri yang takut lebih memilih untuk menjadi biarawati atau bertapa.

11] Cita-cita menaklukkan dan meng-Islam-kan seluruh pulau Jawa baru terlaksana oleh penguasa Mataram Islam dengan bantuan VOC dan pemerintah kolonial Belanda beberapa ratus tahun kemudian. Untuk lebih detailnya baca buku Sri Margana, Perebutan Hegemoni Blambangan; Ujung Timur Jawa 1763-1813.

12] Kurang jelas apakah Pate Sidayo adalah orang sama yang disebut Sunan Prawoto?

13] Terdapat ketidak sinkronan jumlah uang yang diterima oleh Mendez Pinto dkk. Rachmad pada hal. 152 menyebut: “Oleh karena orang Portugis ini akan segera menerima bayaran dari para pimpinan lebih dari 10.000 cruzados, sebagai bentuk apresiasi terhadap pengetahuan mereka tentang bagaimana cara menangani jenazah Sultan Trenggono, …”, dst. Apakah jumlah itu adalah hasil kesepakatan awal saat di Banten, atau hanya apresiasi terhadap ide pengawetan dan pemakaman sementara jenazah Sultan Trenggono?

Sedangkan pada footnote hal. 165 disebut keterangan yang agak membingungkan sbb: “Fatahillah juga memberikan kepada kami 100 cruzados. Di mana 300 cruzados setara dengan 14 orang Portugis yang mati dalam peperangan”.

Menurut pendapat Penulis mungkin lebih masuk akal adalah kaum Portugis itu mendapat bayaran sebesar 10.000 cruzados sesuai kesepakatan awal, lalu Fatahillah menambahi 300 cruzados sebagai kompensasi kematian 14 anggotanya.

14] de Graaf, Kerajaan Islam Pertama Di Jawa, hal. 87; Rachmad, Demak, hal. 170. Dari perkataan itu diketahui bahwa Prawoto memiliki pengetahuan tentang apa yang terjadi di Eropa dan penaklukan yang dilakukan oleh kaum Ottoman.

15] de Graaf, Kerajaan Islam Pertama Di Jawa, hal. 88-89, 145, 238-239.

Hamka, hal. 765-766.

Slamet Muljana, hal. 248-249.

 



TAMBAHKAN KOMENTAR