Tel No.

Blog

LACAK NUMISMATIS AWAL

Di Post Oleh : OEANG_NOESANTARA 18-06-2020 22:19:52 14
img/blog/top_4091789149895_2250512251912273_1943473354275028992_n.jpg

Kita telah bahas kemungkinan Sultan Syiak terakhir yaitu Kasim II (atau setidaknya kerabat beliau) sebagai numismatis kebangsaan Indonesia paling awal, ditandai dengan ditemukannya artefak berupa album koleksi uang kertas Orida dll periode 1943-1949. Kali ini kita maju ke periode 1960-an.

Tersebutlah seorang karyawan bernama OEI TJWAN LIEM yg bekerja di perusahaan "Kian Gwan" di bilangan Asemka - Jakarta Kota. Perusahaan besutan keluarga konglomerat Oei Tiong Ham itu bergerak di produk makanan, gula dan farmasi. Uniknya di awal pendirian yakni tahun 1863, Kian Gwan juga bergerak di bidang opium. Ya anda tidak salah baca. Opium = candu. Barang haramkah? Hehe, mungkin, tergantung dari sudut pandang pemerhatinya. Asal paham saja: awal kemerdekaan Republik Indonesia, candu adalah salah satu produk andalan untuk menyokong pergerakan kemerdekaan bangsa ... suatu hal yg jarang dibahas oleh sejarahwan kan? Perusahaan itu akhirnya dinasionalisasi setelah 1 abad sejak pendirian, tepatnya tahun 1964 dan kini menjadi BUMN bernama PT. Rajawali Nusantara Indonesia. Okey kita tidak perbincangkan lebih dalam sebab terlalu melebar topiknya.

Pak OTL yang lahir di Batavia tahun 1915 mulanya tinggal di Jl. Pejagalan - Jakarta Kota, lantas pindah di bilangan Jatinegara - Jkt Timur di awal 1965 sebelum petaka Sep-Okt itu terjadi. Belakangan ia berganti nama menjadi Tjahja Widjaja. Sebagaimana masyarakat umum saat itu, ia memiliki hobi filateli dan merambah bidang numismatik sejak awal 1960. Ketekunan pak OTL diperhatikan oleh anak2nya. Ia mengkoleksi banyak uang kertas ciamik berkondisi EPQ / PPQ periode 1940-60, berlanjut periode 70, sebelum beliau wafat tahun 1978.

Dengan menjadi numismatis hampir dapat dipastikan bhw kebutuhan primer dan sekunder pelakunya sudah terpenuhi sepatutnya. Jika beliau mampu mengkoleksi lembar uang Rp 10.000 Barong awal Orde Baru 1975, itu berarti "mematikan" uang belanja senilai 24 USD (Rp 415/USD saat itu) atau 8.3 gram emas murni (Rp 1200/gram). Nilainya kira2 setara Rp 330.000 dg kurs USD, atau Rp 6.000.000 dg kurs LM. Boleh juga?!

Setelah pak OTL tiada, pernah sang isteri karena ketidak tahuannya menjual Rp 10.000 Barong UNC dengan harga Rp 10.000 kepada seseorang. Sang anak yg melihat "penipuan" itu geram dan langsung mengusir sang tamu yg dianggap tak tahu malu. Warisan filateli dan uang kertas akhirnya tersebar kepada kepada tujuh orang anak. Namun passion terhadap benda hobi tidak lagi sebesar yg diberikan oleh alm. pak OTL. Merekapun bersepakat menjual bertahap. Alhasil koleksi tersebar ke mana-mana. Sebagian hinggap di pedagang numismatika gedung Globe Pasar Baru tempo dulu, antara lain Rp 1000 Sukarno 1960 UNC dihargai Rp 300.000 saja. Beruntunglah numismatis yg masih berhasil mendapat sisa warisan di tahun 2019-20.

Demikianlah dokumentasi ringan dan singkat ini berhasil dicatat setelah dituturkan ulang oleh pak Hadi Widjaja, sang anak, kepada Oeang Noesantara pada 7 Februari 2020.



TAMBAHKAN KOMENTAR