Tel No.

Blog

TOKEN HENG GUAN

Di Post Oleh : OEANG_NOESANTARA 17-06-2020 23:30:55 16
img/blog/top_73674489547612_2257635471199951_8303926582251094016_o.jpg

Oeang Noesantara memiliki uang kertas (baca: token) ciamik sumbangan Uncle Giant dari Medan. Nama token ini adalah Heng Guan. Soal kondisi? Cukup Fine. No problem. Sama sekali tidak kami permasalahkan dan memang kami belum tertarik mengincar score untuk item sejenis ini. Dengan jumlah nomor seri hanya tiga digit "708" maka nilai 18 - 30 RK rasanya cukup pantas, atau mungkin malah outrageous karena terlalu rendah? Sementara ini diketahui hanya ada satu temannya yang eksis. Untuk mengetahui asal muasalnya kamipun berselancar di internet terinspirasi film "Searching". Tapi hasilnya nihil. Tak satupun memberikan informasi memuaskan. Jikapun ada yang membahas nama itu, paling nama tokoh atau perusahaan yang baru didirikan.

Awalnya sempat diduga bahwa token ini beredar di wilayah semenanjung Malaya atau Borneo bagian utara. Namun orang sana menolak kemungkinan itu karena ejaan yang tertulis tidak lazim digunakan. Paduan huruf "OE" yang dibaca "U" dibuat oleh Prof. Charles van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi pada 1901 dan selanjutnya populer disebut Ejaan Ophuijsen. Dari sini kami dapat memperkirakan bahwa token ini diedarkan pada awal abad ke-20 hingga kira-kira tahun 1940-an, dengan dugaan moderat sekitar tahun 1920. Satuan mata uang "F" alias "Florijn" tegas menunjukkan bahwa token ini beredar di wilayah Hindia Belanda karena Malaya tentu menggunakan mata uang Dollar. Jika dua hal yaitu waktu dan tempat berhasil dijawab, pertanyaan selanjutnya adalah di wilayah kerajaan manakah uang itu beredar? Siapa yang menerbitkan? Jenis perkebunan apa?

Berdasarkan pengetahuan yang sangat terbatas, kami memperkirakan bahwa token Heng Guan ini diedarkan di perkebunan yang ada di suatu kerajaan di wilayah Karesidenan Sumatera Timur. Penghujung abad 19 para pekebun di "oostkust" atau pantai timur Sumatera menggunakan logam sebagai bahan pembuatan token. Contoh: Aer Kesoengei, Bandar Kwala, Blimbing, Dolok Estate, Jelok Dalam, Oong Hong Heng, Roemah Kinangkong, Silau, Soengei Bamban, Serbangan,Tjinta Radja, dll. Seperti halnya kelahiran uang kertas, diperkirakan kesulitan pengadaan bahan logam yang memiliki nilai intrinsik serta rumitnya pembuatan, membuat mereka mengganti token dengan bahan karton atau kertas yang jauh lebih mudah dan murah diproduksi.

Pada masa itu perhatian pemerintah kolonial lebih tercurah pada pulau Jawa. Sedangkan daerah terpencil di Sumatera bisa dikatakan terabaikan. Sumatera Timur terbengkelai. Ia cuma dianggap tanah yang dipenuhi hutan rimba dan binatang buasnya. Namun adanya tukar menukar antara tanah Bengkulu dengan Singapura antara Belanda dengan Inggris, munculnya Traktat Siak 1858 yang memberikan legitimasi penuh kepada Belanda atas tanah di Sumatera Timur, kebijakan Batig Slot atau sisa anggaran dan diberlakukannya Agraria Wet 1870, membuat investor asing berbondong mau datang menanamkan uang ke Hindia Belanda. Pada saat itu di Sumtim terdapat beberapa kerajaan yang menyatakan lepas dari kekuasaan Aceh dan Siak, antara lain Langkat, Deli, Serdang, Asahan. Perkebunan dalam skala besar pertama dikerjakan oleh Jacobus Nienhuys, seorang pekebun tembakau dari Belanda. Ia diberi konsesi tanah luas oleh Kesultanan Deli. Sementara itu harga tembakau di dunia sedang membumbung tinggi, terutama sejak Terusan Suez dibuka tahun 1869. Tahun 1889 harga tembakau Deli di pasar dunia mencapai harga tertinggi dalam sejarah perkebunan Deli. Keberhasilan Nienhuys segera menarik pengusaha Eropa lain untuk melakukan hal yang sama.

Jika pemilik kapital mendapatkan keuntungan luar biasa besar, bagaimana nasib para pekerja perkebunan atau sang kuli? Berbeda kondisi bumi langit dengan pemilik modal, mereka hidup dalam berbagai himpitan. Para calo mendapatkan keuntungan sebagai penyalur kuli, baik dengan sukarela maupun dengan paksaan. Yang berasal dari Jawa biasanya datang beserta keluarga. Yang dari Cina datang dengan sukarela mencari nafkah, namun ada juga yang melalui penculikan. Mereka bekerja berdasarkan kontrak. Hak memutuskan kontrak hanya dari pemilik kebon, bukan dari pekerja. Sanksi bagi pelanggar sangat keras yang disebut sebagai poenale sanctie atau sanksi pidana. Tidak ada kontrol dari pemerintah dan hal ini memberi peluang bagi majikan untuk melakukan hal di luar batas kemanusiaan. Jan Breman menyebut bahwa Nienhuys pernah menghukum cambuk 7 kuli hingga tewas. Hukuman lain juga diterima 2 kuli perempuan yang melarikan diri dan berhasil ditangkap. Mereka lalu diarak keliling perkebunan dan melewati barak lelaki, dengan kondisi telanjang. Seorang di antaranya bunuh diri karena tidak kuat menanggung malu. Di tahun 1931 jenis hukuman itu diusulkan untuk diganti dengan "Koeli Ordonantie 1931".

Para pengusaha itu mendapatkan konsesi lahan dari tuan tanah dalam hal ini para Sultan. Memang kebanyakan adalah pengusaha dari Eropa dan Amerika. Meski demikian mengingat jumlah dan peranannya, beberapa pengusaha Cina juga mendapatkan konsesi yang sama. Tak heran jika sebagian token bertatahkan aksara Mandarin. Disebutkan bahwa di dalam kerajaan Deli, Langkat, Serdang, Asahan dkk kekuasaan peradilan adalah dalam tangan Kerapatan Raja-raja itu. Tapi bagaimana dengan orang asing (Belanda, Cina, India, dll)? Mula-mula tetap di bawah peradilan Sultan, tapi berikutnya tiap-tiap pengurus perkebunan membuat peradilan dan rumah tahanan, bahkan UANG sendiri. Antara tahun 1880-1884 banyak terjadi gangguan keamanan yang ditimbulkan oleh kuli-kuli Cina sebab mereka membawa serikat rahasia (Triad) seperti Gi-Hin dan Hong-Si sehingga waktu panen terpaksa dikerahkan penjagaan polisi dan militer untuk melerai perkelahian antar kongsi. Derajat Sumatera Timur menjadi jatuh sejak Propinsi Sumatera terbentuk resmi dengan ibukota Medan di tahun 1937. Kota Polonia Medan sendiri mendapat nama dari Baron Michalsky seorang bangsawan Polandia yang mendapatkan konsesi pembuka perkebunan tembakau tahun 1872 dan menamakan wilayah itu Polonia yaitu nama tempat kelahirannya.

Terdapat informasi yang mungkin bisa memberi petunjuk tentang sejarah perusahaan Heng Guan yang menjadi bintang postingan kali ini. Bahwa sebenarnya orang Cina telah merantau dan mendiami berbagai tempat di kepulauan ini sejak ratusan tahun silam. Namun gelombang besar imigran berjumlah ratusan ribu orang dari Cina daratan terjadi pada periode 1860-1890 dan 1900-1930. Mereka membentuk komunitas yang kuat di Hindia Belanda, terutama di Jawa dan pantai timur Sumatera. Tjong A Fei (Hakka) dan Khoe Tjin Tek (Hokkien) adalah tokoh terkemuka dari Sumatera. Dalam buku Twang Peck Yang disebutkan secara rinci nama dan lokasi beberapa perusahaan besar milik pengusaha Cina beraset jutaan guilder atau lebih. Dengan tidak disinggungnya nama Heng Guan dapat dipastikan perusahaan ini relatif kecil peranan dan asetnya.

Berkaitan dengan pemakaian mata uang, di Sumatera Timur pada abad 19 jamak dipakai uang Ringgit Spanyol dan Ringgit Burung Malaya / Inggris. Karena kurang uang kontan maka kuli dibayar dengan kertas bon atau dengan uang perkebunan. Bon kertas yang laku ialah BON BERAS karena pemilik kedai Cina tidak boleh memberikan lain daripada beras bahkan tidak untuk candu. Karena sejak di Penang - Malaya kuli Cina diberikan persekot dengan Ringgit Dollar, maka daerah inipun dipenuhi dengan dollar itu. Uang Rupiah (Gulden) Hindia Belanda baru resmi dipakai tahun 1907 ketika dibuka cabang De Javasche Bank - Medan. Saat itu nilai tukar Gulden dengan Dollar Malaya adalah 1,4 : 1.

Di tahun 1930 saat dunia dilanda depresi Malaise, Sumatera Timur yang menggantungkan roda ekonomi dengan kegiatan export menjadi sangat terpukul. Pendapatan rakyat menurun, uang kontan jarang ada, beras sulit didapat sehingga rakyat di kampung membuka hutan untuk dijadikan ladang. Bersamaan dengan berbagai usaha bangkrut dan pengangguran bertambah, kegiatan perkebunan-pun banyak yang tutup. Dari sini bisa ditaksir rentang usia perusahaan Heng Guan yakni 1920 hingga 1930. Setelah revolusi 1946 Karesidenan Sumatera Timur yang wilayahnya terbentang dari sebelah utara Medan hingga selatan ke wilayah Riau, akhirnya dibubarkan. Sungguh nasib tragis para bangsawan di sana: dijarah oleh anak bangsa sendiri atas nama revolusi kemerdekaan.

---

Hanya sebatas itulah informasi yang bisa kami gali. So sad. Kami belum berhasil mendapatkan informasi yang lebih akurat tentang token Heng Guan ini. Semoga ada Rekan-Rekin mengetahui dan bersedia kongsi pengetahuan untuk kemajuan kita semua. Silahkan share untuk menyambung informasi singkat yang telah kami tulis mengenai sejarah token Heng Guan ini. Terima kasih. Hormat kami: 

Uno Oeang Noesantara

----

Catatan:

  1. TOKEN adalah alat bayar yang diedarkan oleh suatu institusi dan hanya berlaku pada wilayah tertentu dengan masa yang terbatas. Dalam kaitan dengan bisnis perkebunan, token dijadikan alat untuk mengikat pekerja agar jinak - taat - patuh kepada majikannya. Dengan keterbatasan penggunaan token yang dimiliki maka kecil kemungkinan pekerja melarikan diri.

  2. "F" adalah kependekan "Florijn" yakni nama sebutan untuk mata uang Hinda Belanda yaitu "Gulden". Namun dalam perkembangan selanjutnya "F" juga disandingkan dengan kata "Rupiah"

---

Referensi dan bahan bacaan lebih lanjut:

  1. Oeang Noesantara - OeN, dokumentasi.

  2. Museum Nasional, koleksi.

  3. Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, "Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu Di Sumatera Timur".

  4. Lansen & Wells Jr., "Plantage, Handels en Mijngeld van Nederlands Indie".

  5. Bank Indonesia, "Berjuang Dengan Uang".

  6. Allister Macmillan, "Seaports of The Far East".

  7. Dennys Lombard, "Nusa Jawa Silang Budaya II: Jaringan Asia".

  8. Suchen Christine Lim, "Stories of The Chinese Overseas".

  9. Sterling Seagrave, "Para Pendekar Pesisir: Sepak Terjang Gurita Bisnis Cina Rantau".

  10. J. C. van Eerde, "De Volken van Nederlandsch Indie I-II".

  11. L. de Bree, "Gedenboek van De Javasche Bank".

  12. Karl J. Pelzer, "Toean Keboen Dan Petani".

  13. Jan Breman "Menjinakkan Sang Kuli".

  14. H. Mohammad Said, "Suatu Zaman Gelap Di Deli: Koeli Kontrak Tempo Doeloe".

  15. Syafruddin Kalo, "Kapita Selekta Hukum Pertanahan: Studi Tanah Perkebunan di Sumatera Timur".

  16. Twang Peck Yang, "Elite Bisnis Cina Di Indonesia".



TAMBAHKAN KOMENTAR